Ringkasan Jurnal “PENILAIAN DAUR HIDUP BOTOL PET
(POLYETHYLENA TEREPHTALATE) PADA PRODUK MINUMAN LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) OF
PET (POLYETHYLENA TEREPHTALATE) BOTTLES FOR DRINKING PRODUCT”
Jurnal Bumi
Lestari, Volume 13 No. 2, Agustus 2013, hlm. 307-317
PENDAHULUAN
Meningkatnya
populasi penduduk akan disertai dengan peningkatan jumlah produk kemasan
makanan dan minuman dan juga limbah dari produk-produk tersebut. Bahan kemasan
yang biasa digunakan untuk minuman adalah botol PET (polietilena tereptalate)
yang termasuk dalam polimer. Kecenderungan penggunaan botol PET ini menimbulkan
dampak lingkungan dimana sebagian besar bahan tersebut tidak bisa didaur oleh
lingkungan sehingga perlu dilakukan pengajian tentang jenis kemasan yang paling
baik terhadap lingkungan dengan metode Life Cycle Assesment.
METODOLOGI
Penelitian
LCA kemasan PET dilakukan pada perusahaan teh yang ada di pulau jawa.
Jenis data
yang digunakan pada penelitian ini Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan
data sekunder. Data yang digunakan meliputi: (i) proses produksi dan daurulang
botol PET; (ii) kebutuhan bahan baku dan energi; (iii) pencemaran udara (CO2 ,
NOX , SOX dan debu) ; (iv) pencemaran air (COD dan BOD); dan (v) kebutuhan
biaya. Pengolahan data LCA dilakukan dengan mengacu pada ISO 14040 (Gambar 1)
dan analisis dampak lingkungan.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Tujuan dan
Ruang Lingkup Tahap pertama studi LCA adalah penentuan tujuan dan ruang lingkup
kajian. Batasan atau ruang lingkup kajian meliputi proses produksi kemasan
botol PET, pengguna (industri minuman teh), dan pengolahan limbah kemasan botol
PET, dampak lingkungan dan analisis biaya. Menurut ISO 14040 (ISO 2006),
pemilihan kategori dampak harus konsisten dengan tujuan dan ruang lingkup
penelitian, dan mencerminkan isu-isu lingkungan utama yang berhubungan dengan
sistem produk/ jasa. Ulasan dalam penelitian ini, terbatas pada data. yang
diperoleh dari lapangan, wawancara dan studi pustaka, telah dibandingkan
kategori dampak potensial pemanasan global (GWP), potensial pencemaran udara,
potensi eutrofikasi (EP), penggunaan energi (EN), daur-ulang limbah PET, dan
analisis biaya.
Analisis Inventori
Analisis Inventori Pada tahap ini
dilakukan pengumpulan data yang mendukung LCA, berupa kebutuhan bahan baku dan
energi, proses produksi kemasan, dan proses daur-ulang limbah kemasan PET.
Siklus hidup kemasan botol PET, diawali dengan proses produksi kemasan botol
PET, kemudian kemasan botol PET yang telah selesai diproduksi digunakan untuk
mengemas produk minuman teh. Produk tersebut akan disalurkan ke konsumen
melalui distributor dan konsumen akan memanfaatkan produk tersebut sehingga
dihasilkan limbah kemasan yang berpotensi mencemari lingkungan. Pencemaran
tersebut dapat terjadi karena kemasan botol PET tidak dapat didaur-ulang oleh
lingkungan. Semakin banyak kemasan botol PET yang digunakan untuk mengemas
produk maka akan semakin banyak pula jumlah kemasan botol PET yang dapat
mencemari lingkungan, sehingga dibutuhkan suatu tindakan untuk menanggulangi
limbah kemasan botol PET. Proses penanganan limbah kemasan botol PET dilakukan
dengan melibatkan beberapa pihak, sehingga membuat siklus hidup kemasan botol
PET menjadi panjang. Siklus hidup kemasan botol PET tersusun dari tiga kegiatan
yaitu pabrik kemasan botol PET, pabrik minuman teh (pengguna), dan jaringan
daur-ulang kemasan PET.
Pabrik Kemasan Botol PET
Secara
ringkas, kegiatan pabrik kemasan PET dalam memproduksi botol PET menggunakan
bahan baku resin PET. Tahapan proses produksi botol plastik PET cukup panjang,
sehingga memerlukan energi yang sangat besar. duk jadi dan cacat adalah 5:2.
Pada proses produksi botol PET, limbah yang banyak dihasilkan adalah limbah
padat yang berupa preform dan botolPET yang tidak memenuhi standar. Preform dan
botolPET yang tidak memenuhi standar tersebut akan dijual ke industri yang
membutuhkan, seperti produk rumah tangga dan tidak digunakan kembali dalam
sebagai bahan baku produksi kemasan botol PET.
Daur-ulang PET
Kegiatan
daur-ulang limbah botol kemasan PET dimulai dari pengumpulan, pemilahan tutup
botol dan label serta disortasi berdasarkan warna, kemudian botol diolah
menjadi serpihan PET melalui tahapan proses penggilingan, pencucian, dan
pengeringan Temuan di lapangan, menunjukkan semua jenis plastik dikumpulkan oleh
pemulung, disortasi berdasarkan jenisnya untuk pemanfaatan selanjutnya sebagai
bahan plastik yang dapat didaur-ulang. Khusus untuk limbah kemasan PET
dilakukan pencucian dan pencacahan menjadi serpihan yang siap dijual. Serpihan
PET yang telah kering disortasi kembali dari kotoran kemudian dikemas dan
dikirim ke industri pengolahan plastik. Pengamatan di lapangan menunjukkan
bahwa, serpihan PET tidak kembali ke pabrik kemasan PET, tetapi dikirim ke
industri lain untuk diolah menjadi produk lain, atau diekspor.
Pabrik
kemasan botol PET tidak memanfaatkan serpihan daur-ulang PET. Dengan demikian,
siklus PET ini, sebenarnya tidak melingkar (un-cycle). Beberapa peneliti di
beberapa negara melaporkan bahwa penggunaan kembali serpihan PET ini hampir
mencapai 25% yang dicampur dengan virgin PET.
Vellini dan
Savioli (2009) menyatakan bahwa produksi dan daur-ulang kemasan gelas sangat
memerlukan energi. Simulasi dengan menggunakan Bousted Model menunjukkan bahwa
produksi kemasan gelas lebih ramah lingkungan daripada PET, jika faktor
penggunaan kembali dan daur-ulang (reuse /recycle) lebih tinggi.
ANALISA
DAMPAK LINGKUNGAN
Cemaran
lingkungan yang terjadi selama siklus hidup kemasan PET meliputi cemaran
komponen fisik-kimia (limbah udara, debu, kebisingan, limbah padat dan air
limbah) dan komponen ekonomi.
KOMPONEN
FISIK KIMIA
Pada proses
produksi kemasan botol PET, limbah yang dihasilkan dikelompokkan menjadi empat
jenis, yaitu limbah padat, gas, debu, dan kebisingan. Cemaran udara yang
dihasilkan pada proses produksi kemasan botol PET berasal dari emisi mesin
produksi dan kendaraan bermotor. Partikel debu dalam ruangan dihasilkan dari
berbagai kegiatan pabrikasi, terutama operasional mesin dan transportasi. Mesin
atau peralatan yang digunakan pada proses produksi kemasan botol PET
menghasilkan kebisingan. Limbah padat yang dihasilkan pada proses produksi
kemasan botol PET berupa botol dan preform yang
tidak
memenuhi standar. Pada proses produksi kemasan botol PET hampir tidak
menggunakan air. Limbah cair yang dihasilkan pada proses produksi kemasan botol
PET dihasilkan dari kegiatan MCK (mandi cuci kakus).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar