Selasa, 05 Januari 2016

Ringkasan Jurnal “PENILAIAN DAUR HIDUP BOTOL PET (POLYETHYLENA TEREPHTALATE) PADA PRODUK MINUMAN LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) OF PET (POLYETHYLENA TEREPHTALATE) BOTTLES FOR DRINKING PRODUCT”
Jurnal Bumi Lestari, Volume 13 No. 2, Agustus 2013, hlm. 307-317


PENDAHULUAN
Meningkatnya populasi penduduk akan disertai dengan peningkatan jumlah produk kemasan makanan dan minuman dan juga limbah dari produk-produk tersebut. Bahan kemasan yang biasa digunakan untuk minuman adalah botol PET (polietilena tereptalate) yang termasuk dalam polimer. Kecenderungan penggunaan botol PET ini menimbulkan dampak lingkungan dimana sebagian besar bahan tersebut tidak bisa didaur oleh lingkungan sehingga perlu dilakukan pengajian tentang jenis kemasan yang paling baik terhadap lingkungan dengan metode Life Cycle Assesment.

METODOLOGI
Penelitian LCA kemasan PET dilakukan pada perusahaan teh yang ada di pulau jawa.
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data yang digunakan meliputi: (i) proses produksi dan daurulang botol PET; (ii) kebutuhan bahan baku dan energi; (iii) pencemaran udara (CO2 , NOX , SOX dan debu) ; (iv) pencemaran air (COD dan BOD); dan (v) kebutuhan biaya. Pengolahan data LCA dilakukan dengan mengacu pada ISO 14040 (Gambar 1) dan analisis dampak lingkungan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Tujuan dan Ruang Lingkup Tahap pertama studi LCA adalah penentuan tujuan dan ruang lingkup kajian. Batasan atau ruang lingkup kajian meliputi proses produksi kemasan botol PET, pengguna (industri minuman teh), dan pengolahan limbah kemasan botol PET, dampak lingkungan dan analisis biaya. Menurut ISO 14040 (ISO 2006), pemilihan kategori dampak harus konsisten dengan tujuan dan ruang lingkup penelitian, dan mencerminkan isu-isu lingkungan utama yang berhubungan dengan sistem produk/ jasa. Ulasan dalam penelitian ini, terbatas pada data. yang diperoleh dari lapangan, wawancara dan studi pustaka, telah dibandingkan kategori dampak potensial pemanasan global (GWP), potensial pencemaran udara, potensi eutrofikasi (EP), penggunaan energi (EN), daur-ulang limbah PET, dan analisis biaya.

Analisis Inventori

 Analisis Inventori Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data yang mendukung LCA, berupa kebutuhan bahan baku dan energi, proses produksi kemasan, dan proses daur-ulang limbah kemasan PET. Siklus hidup kemasan botol PET, diawali dengan proses produksi kemasan botol PET, kemudian kemasan botol PET yang telah selesai diproduksi digunakan untuk mengemas produk minuman teh. Produk tersebut akan disalurkan ke konsumen melalui distributor dan konsumen akan memanfaatkan produk tersebut sehingga dihasilkan limbah kemasan yang berpotensi mencemari lingkungan. Pencemaran tersebut dapat terjadi karena kemasan botol PET tidak dapat didaur-ulang oleh lingkungan. Semakin banyak kemasan botol PET yang digunakan untuk mengemas produk maka akan semakin banyak pula jumlah kemasan botol PET yang dapat mencemari lingkungan, sehingga dibutuhkan suatu tindakan untuk menanggulangi limbah kemasan botol PET. Proses penanganan limbah kemasan botol PET dilakukan dengan melibatkan beberapa pihak, sehingga membuat siklus hidup kemasan botol PET menjadi panjang. Siklus hidup kemasan botol PET tersusun dari tiga kegiatan yaitu pabrik kemasan botol PET, pabrik minuman teh (pengguna), dan jaringan daur-ulang kemasan PET.

Pabrik Kemasan Botol PET
Secara ringkas, kegiatan pabrik kemasan PET dalam memproduksi botol PET menggunakan bahan baku resin PET. Tahapan proses produksi botol plastik PET cukup panjang, sehingga memerlukan energi yang sangat besar. duk jadi dan cacat adalah 5:2. Pada proses produksi botol PET, limbah yang banyak dihasilkan adalah limbah padat yang berupa preform dan botolPET yang tidak memenuhi standar. Preform dan botolPET yang tidak memenuhi standar tersebut akan dijual ke industri yang membutuhkan, seperti produk rumah tangga dan tidak digunakan kembali dalam sebagai bahan baku produksi kemasan botol PET.

Daur-ulang PET
Kegiatan daur-ulang limbah botol kemasan PET dimulai dari pengumpulan, pemilahan tutup botol dan label serta disortasi berdasarkan warna, kemudian botol diolah menjadi serpihan PET melalui tahapan proses penggilingan, pencucian, dan pengeringan Temuan di lapangan, menunjukkan semua jenis plastik dikumpulkan oleh pemulung, disortasi berdasarkan jenisnya untuk pemanfaatan selanjutnya sebagai bahan plastik yang dapat didaur-ulang. Khusus untuk limbah kemasan PET dilakukan pencucian dan pencacahan menjadi serpihan yang siap dijual. Serpihan PET yang telah kering disortasi kembali dari kotoran kemudian dikemas dan dikirim ke industri pengolahan plastik. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa, serpihan PET tidak kembali ke pabrik kemasan PET, tetapi dikirim ke industri lain untuk diolah menjadi produk lain, atau diekspor.
Pabrik kemasan botol PET tidak memanfaatkan serpihan daur-ulang PET. Dengan demikian, siklus PET ini, sebenarnya tidak melingkar (un-cycle). Beberapa peneliti di beberapa negara melaporkan bahwa penggunaan kembali serpihan PET ini hampir mencapai 25% yang dicampur dengan virgin PET.
Vellini dan Savioli (2009) menyatakan bahwa produksi dan daur-ulang kemasan gelas sangat memerlukan energi. Simulasi dengan menggunakan Bousted Model menunjukkan bahwa produksi kemasan gelas lebih ramah lingkungan daripada PET, jika faktor penggunaan kembali dan daur-ulang (reuse /recycle) lebih tinggi.

ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN
Cemaran lingkungan yang terjadi selama siklus hidup kemasan PET meliputi cemaran komponen fisik-kimia (limbah udara, debu, kebisingan, limbah padat dan air limbah) dan komponen ekonomi.

KOMPONEN FISIK KIMIA
Pada proses produksi kemasan botol PET, limbah yang dihasilkan dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu limbah padat, gas, debu, dan kebisingan. Cemaran udara yang dihasilkan pada proses produksi kemasan botol PET berasal dari emisi mesin produksi dan kendaraan bermotor. Partikel debu dalam ruangan dihasilkan dari berbagai kegiatan pabrikasi, terutama operasional mesin dan transportasi. Mesin atau peralatan yang digunakan pada proses produksi kemasan botol PET menghasilkan kebisingan. Limbah padat yang dihasilkan pada proses produksi kemasan botol PET berupa botol dan preform yang

tidak memenuhi standar. Pada proses produksi kemasan botol PET hampir tidak menggunakan air. Limbah cair yang dihasilkan pada proses produksi kemasan botol PET dihasilkan dari kegiatan MCK (mandi cuci kakus).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar